Showing posts with label Tentang Sejarah. Show all posts
Showing posts with label Tentang Sejarah. Show all posts

Thursday, 22 October 2015

BACAAN “SHALAWAT NARIYAH” & TERJEMAH/ARTINYA: TEKS, FAEDAH, KEUTAMAAN, KEAMPUHAN AMALAN “SHALAWAT NARIYAH MP3” & HUKUMNYA MENURUT PEMAHAMAN AHLUSUNNAH WAL JAMA’AH

BACAAN “SHALAWAT NARIYAH” & TERJEMAH/ARTINYA: TEKS, FAEDAH, KEUTAMAAN, KEAMPUHAN AMALAN “SHALAWAT NARIYAH MP3” & HUKUMNYA MENURUT PEMAHAMAN AHLUSUNNAH WAL JAMA’AH

 Mereka kaum Sufi meyakini bahwa Shalawat Nariyah memiliki faedah yakni:








"…Jika mendapat kesusahan karena kehilangan barang, hendaknya membaca sholawat ini sebanyak 4444 kali. Insya Allah barang yang hilang akan cepat kembali. Jika barang tersebut dicuri orang dan tidak dikembalikan, maka pencuri tersebut akan mengalami musibah dengan kehendak Allah swt. Setelah membaca Sholawat ini hendaknya membaca do’a sebagai berikut (boleh dibaca dengan bahasa Indonesia): “ Ya Allah, dengan berkah Sholawat Nariyah ini, saya mohon Engkau kembalikan barang saya”. Doa ini dibaca 11 kali dengan hati yang penuh harap dan sungguh-sungguh..”



Bagaimana tinjauan Syari’ah terhadap “Shalawat Nariyah” dari para Ulama Ahlussunnah Waljama’ah?Berikut ini artikel yang ditulis oleh Al-Ustadz Abu Karimah Askari Al-Bugisi Hafidzahullah, semoga bisa menjadi pencerahan bagi kita semua.
*****
Shalawat jenis ini banyak tersebar dan diamalkan di kalangan kaum muslimin. Bahkan ada yang menuliskan lafadznya di sebagian dinding masjid. Mereka berkeyakinan, siapa yang membacanya 4444 kali, hajatnya akan terpenuhi atau akan dihilangkan kesulitan yang dialaminya. Berikut nash shalawatnya:


اللَّهُمَّ صَلِّ صَلاَةً كَامِلَةً وَسَلِّمْ سَلاَمًا تَامًّا عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الَّذِيْ تُنْحَلُ بِهَ الْعُقَدُ وَتَنْفَرِجُ بِهِ الْكُرَبُ وَتُقْضَى بِهِ الْحَوَائِجُ وَتُنَالُ بِهِ الرَّغَائِبُ وَحُسْنُ الْخَوَاتِيْمِ وَيُسْتَسْقَى الْغَمَامُ بِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ عَدَدَ كُلِّ مَعْلُوْمٍ لَكَ
Allahumma sholli sholaatan kaamilatan Wa sallim salaaman taaman ‘ala sayyidinaa Muhammadin Alladzi tanhallu bihil ‘uqadu, wa tanfariju bihil kurabu, wa tuqdhaa bihil hawaa’iju Wa tunaalu bihir raghaa’ibu wa husnul khawaatimi wa yustasqal ghomaamu bi wajhihil kariimi, wa ‘alaa aalihi, wa shahbihi ‘adada kulli ma’luumin laka
“Ya Allah, berikanlah shalawat yang sempurna dan salam yang sempurna kepada Baginda kami Muhammad yang dengannya terlepas dari ikatan (kesusahan) dan dibebaskan dari kesulitan. Dan dengannya pula ditunaikan hajat dan diperoleh segala keinginan dan kematian yang baik, dan memberi siraman (kebahagiaan) kepada orang yang sedih dengan wajahnya yang mulia, dan kepada keluarganya, para shahabatnya, dengan seluruh ilmu yang engkau miliki.”
Ada beberapa hal yang perlu dijadikan catatan kaitannya dengan shalawat ini:
1- Sesungguhnya aqidah tauhid yang diseru oleh Al Qur’anul Karim dan yang diajarkan kepada kita dari Rasulullah shallallahu laiahi wasallam, mengharuskan setiap muslim untuk berkeyakinan bahwa Allah-lah satu-satunya yang melepaskan ikatan (kesusahan), membebaskan dari kesulitan, yang menunaikan hajat, dan memberikan manusia apa yang mereka minta.
Tidak diperbolehkan bagi seorang muslim berdo’a kepada selain Allah untuk menghilangkan kesedihannya atau menyembuhkan penyakitnya, walaupun yang diminta itu seorang malaikat yang dekat ataukah nabi yang diutus. Telah disebutkan dalam berbagai ayat dalam Al Qur’an yang menjelaskan haramnya meminta pertolongan, berdo’a, dan semacamnya dari berbagai jenis ibadah kepada selain Allah Azza wajalla. Firman Allah:
قُلِ ادْعُوا الَّذِيْنَ زَعَمْتُمْ مِنْ دُوْنِهِ فَلاَ يَمْلِكُوْنَ كَشْفَ الضُّرِّ عَنْكُمْ وَلاَ تَحِْويْلاً
“Katakanlah: ‘Panggillah mereka yang kamu anggap (sebagai tuhan) selain Allah. Maka mereka tidak akan mempunyai kekuasaan untuk menghilangkan bahaya darimu dan tidak pula memindahkannya.” (Al-Isra: 56)
Para ahli tafsir menjelaskan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan segolongan kaum yang berdo’a kepada Al Masih ‘Isa, atau malaikat, ataukah sosok-sosok yang shalih dari kalangan jin. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir 3/47-48)
2- Bagaimana mungkin Rasulullah shallallahu alaihi wasallam rela dikatakan bahwa dirinya mampu melepaskan ikatan (kesulitan), menghilangkan kesusahan, dsb, sedangkan Al Qur’an menyuruh beliau untuk berkata:

قُلْ لاَ أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعاً وَلاَ ضَرًّا إِلاَّ مَا شَاءَ اللهُ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لاَسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوْءُ إِنْ أَنَا إِلاَّ نَذِيْرٌ وَبَشِيْرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُوْنَ
“Katakanlah: ‘Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman’.” (Al-A’raf: 188)
Seorang laki-laki datang kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam, lalu mengatakan, “Berdasarkan kehendak Allah dan kehendakmu”. Maka beliau bersabda:
أَجَعَلْتَنِيْ للهِ نِدًّا؟ قُلْ مَا شَاءَ اللهُ وَحْدَهُ
“Apakah engkau hendak menjadikan bagi Allah sekutu? Ucapkanlah: Berdasarkan kehendak Allah semata.” (HR. An-Nasai dengan sanad yang hasan)
(Lihat Minhaj Al-Firqatin Najiyah 227-228, Muhammad Jamil Zainu)
Share:

Monday, 19 October 2015

Tujuh pendaki tewas dalam kebakaran di Gunung Lawu berhasil dievakuasi

Dua pendaki lainnya ditemukan dalam keadaan kritis

GUNUNG LAWU. Pemandangan matahari terbit dan Gunung Lawu terlihat dari Gunung Merapi. Foto oleh Olivier Laban-Mattei/AFP
GUNUNG LAWU. Pemandangan matahari terbit dan Gunung Lawu terlihat dari Gunung Merapi. Foto oleh Olivier Laban-Mattei/AFP
MAGETAN, Indonesia — Tim Search and Rescue (SAR) gabungan telah berhasil mengevakuasi tujuh pendaki yang tewas dalam musibah kebakaran di Gunung Lawu, Senin, 19 Oktober.
"Laporan petugas hingga Senin dini hari evakuasi terus dilakukan. Setelah itu berhenti karena gelap dan pagi harinya dilanjutkan lagi," ujar Kepala Pelaksana BPBD Magetan Agung Lewis, Senin.
Para korban ditemukan berada di antara pos 3 dan 4 jalur pendakian Cemoro Sewu dengan ketinggian sekitar 1.500 hingga 2.500 meter dari permukaan air laut.
"Saat ditemukan petugas, kondisi para korban sangat mengenaskan. Mereka sudah terpanggang dengan posisi tergeletak di sejumlah titik," kata Agung.
Selain mengevakuasi korban tewas, petugas juga mengevakuasi dua korban kritis. Mereka lalu langsung dibawa ke RSUD dr Sayidiman Magetan untuk mendapatkan perwatan medis lebih lanjut.
Empat dari korban tewas telah berhasil teridentifikasi, sedangkan sisanya masih proses identifikasi oleh petugas RSUD dr Sayidiman Magetan. Mereka adalah Rita Septi Nurika (21) warga Paron, Ngawi; Nanang Setia (16) warga Beran, Ngawi; Marwan warga Beran, Ngawi; dan Joko Prayitno (31) warga Kebun Jeruk, Jakarta.
Selain tujuh pendaki tewas, kebakaran hutan di lereng Gunung Lawu juga menyebabkan sejumlah pendaki lainnya kritis akibat luka bakar di atas 50 persen. Pendaki yang dalam keadaan kritis adalah, Eko Nurhadi (45) warga Karangjati, Ngawi, dan Novi Dwi (14) warga Beran, Ngawi.
Setelah dirawat di RSUD dr Sayidiman, korban luka Eko dirujuk ke RSUD dr Soedono Madiun, sedangkan Novi Dwi dirujuk ke RSUD dr Moewardi Solo, Jawa Tengah.
Tim SAR gabungan dari BPBD Magetan, Kodim 0804/Magetan, Polres Magetan, dan relawan Anak Gunung Lawu terus melakukan penyisiran untuk mengantisipasi kemungkinan masih adanya pendaki yang terjebak kebakaran hutan di lereng gunung yang berada di perbatasan Jawa Timur dengan Jawa Tengah tersebut.
Sementara, sejak dua pekan terakhir, kebakaran kembali melanda hutan di lereng Gunung Lawu. Kebakaran tersebut merupakan kebakaran yang ke dua kalinya selama musim kemarau setelah kebakaran hutan melanda lereng setempat pada Agustus 2015 lalu.
Pendaki tidak tercatat
"Berdasarkan data yang ada, para pendaki korban tewas dan luka tersebut tidak tercatat di buku pendaftaran pos Cemoro Sewu," ujar Agung.
Kepastian itu diperoleh menyusul penutupan jalur pendakian Gunung Lawu melalui pos Cemoro Sewu yang telah dilakukan sejak 16 Oktober 2015.
"Para pendaki korban tewas dan luka akibat kebakaran hutan di lereng Lawu tersebut dipastikan tidak berangkat melalui jalur pendakian Cemoro Sewu. Hal itu karena jalur pendakian Cemoro Sewu telah ditutup per tanggal 16 Oktober," kata Agung.
Penutupan jalur pendakian tersebut dilakukan oleh petugas karena di sekitar jalur tersebut terjadi bencana kebakaran hutan yang dapat mengancam keselamatan pendaki.
Diperkirakan, para pendaki tersebut naik Gunung Lawu melalui sejumlah jalur lain yang ada. Di antaranya jalur Cemoro Kandang di Karanganyar, Jawa Tengah, jalur Candi Ceto, ataupun jalur Jogorogo

Source : rappler.com
Share:

Saturday, 3 October 2015

Hari Batik Nasional, Perajin Didorong Gunakan Logo 'Batik Indonesia


Jakarta:Perajin dan pengusaha batik didorong untuk mencantumkan logo bertuliskan “Batik Indonesia” bersama merek dagang masing-masing produk. Menteri Perindustrian Saleh Husin mengatakan pencantuman logo tersebut agar batik Indonesia mudah dikenal, tepercaya untuk dunia, dan untuk menjaga kualitas setiap batik Indonesia.

"Perajin diharapkan dapat menyertakan logo batikmark Batik Indonesia dengan Hak Cipta nomor 034100,” kata Saleh  saat membuka secara resmi peringatan Hari Batik Nasional di Museum Tekstil, Jakarta. 

Menurut Saleh kualitas batik juga dijaga untuk menghadapi tantangan jangka panjang. "Saat ini citra batik Indonesia semakin bertambah setelah para perajin  menerapkan produksi bersih (cleaner production) disertai dengan ekoefisiensi (eco-efficiency)," katanya dalam keterangan tertulis, Jumat 2 Oktober 2015. 

Ini memberikan indikasi produk batik Indonesia sudah berwawasan lingkungan dan berpengaruh positif terhadap pasar. Apalagi batik telah dikenal kaya motif yang mempunyai filosofi, nilai seni, dan warisan budaya yang tinggi, desain menarik sesuai trend atau mode yang terus berkembang.

Direktur Jenderal Industri Kecil Menengah Kementerian Perindustrian  Euis Saedah mengatakan penggunaan pewarna alami menjadi nilai tambah batik Indonesia. Keragaman tanaman yang dimiliki Nusantara sebagai bahan baku pewarna menjadi keunggulan. “Benefitnya, perajin leluasa untuk terus mengembangkan warna alam dan diterapkan ke batik yang diproduksi,” katanya. 

Ketua Yayasan Batik Indonesia Jultin Ginandjar Kartasasmita menegaskan, organisasinya terus mendukung pembatik agar bisa memakai pewarna alami. Pihaknya juga mendukung agar para perajin dan pelaku usaha mulai mengurangi atau bahkan tidak lagi memakai pewarna kimia yang tidak ramah lingkungan. 

 Kementerian Perindustrian juga telah menyelesaikan SNI Batik Pengertian dan Istilah. Dan pada 2015 ini juga sedang menyusun Rancangan Standar Nasional Indonesia (RSNI) tentang Batik Tulis, Batik Cap dan Batik Kombinasi.

Jumlah usaha skala Pembatikan IKM di Indonesia saat ini tercatat sejumlah 39.641 unit usaha dengan penyerapan tenaga kerja sebanyak 916.783 orang dan nilai produksi sebesar US$ 39,4 Juta serta total ekspor sebesar US$ 4,1 Juta. Pemerintah juga mengapresiasi Yayasan Batik Indonesia yang telah berperan penting dalam mewujudkan transformasi kultural menuju modernisasi masyarakat batik, baik sebagai perajin, fashion designer maupun pengguna.

Peringatan Hari Batik Nasional merupakan bagian tak terpisahkan atas pengukuhan batik Indonesia oleh UNESCO menjadi warisan Budaya Tak Benda peninggalan budaya dunia, yang ditetapkan tanggal 2 Oktober 2009 di Abu Dhabi. Pemerintah melalui Keppres Nomor 33 tahun 2009 pada tanggal 17 November 2009 juga telah ditetapkan tanggal 2 Oktober sebagai Hari Batik Nasional.

Source : bisnis.tempo.co
Share:

Friday, 17 May 2013

Hijrah Rasulullah SAW

Dalam beberapa riwayat yang shahih disebutkan bahwa setelah Abu Bakar ra melihat kaum Muslim sudah banyak yang berangkat hijrah ke Madinah, ia datang kepada Rasulullah sw meminta ijin untuk berhijrah. Tetapi dijawab oleh Rasulullah saw, “Jangan tergesa-gesa, aku ingin memperoleh ijin dulu dari Allah.“ Abu Bakar bertanya, “Apakah engkau juga menginginkannya?“ Jawab Nabi saw, “Ya.“ Kemudian Abu Bakar ra menangguhkan keberangkatannya untuk menemani Rasulullah saw. Ia lalu membeli dua ekor unta dan dipeliharanya selama empat bulan.

Share:

Friday, 3 May 2013

Ki Hadjar Dewantara dan Perkembangan Pendidikan di Nusantara

Sirajudin Hasbi

Hari Pendidikan Nasional 2 Mei diambil dari hari lahir Ki Hadjar Dewantara, tokoh pendidikan yang namanya masyhur dalam lembaran sejarah bangsa. Berikut ini cerita singkat mengenai menteri pendidikan pertama republik ini, yang punya sumbangsih begitu besar:

Perjalanan hidup
Sebagai bangsawan yang besar di lingkungan keraton Yogyakarta, Raden Mas Soewardi Soerjaningrat (nama asli Ki Hadjar) memperoleh pendidikan yang layak. Setelah menamatkan sekolah dasar di Europeesche Lagere Scholen (ELS, sekolah rendah berbahasa Belanda selama tujuh tahun), dia kemudian melanjutkan sekolah ke Stovia. Sayang, sekolahnya tidak selesai lantaran sakit.
Share:

Thursday, 15 November 2012

1 Suro, warga Solo kirab pusaka di Istana Mangkunegaran

Ribuan warga Solo dan berbagai daerah berebut air bekas jamasan pusaka, saat digelar peringatan malam 1 Suro 1946 di Istana Mangkunegaran Solo, Jawa Tengah. Seperti biasanya, memperingati tahun baru 1 Suro 1946 dalam penanggalan jawa atau 1 Muharam 1434 Hijriah, Istana Mangkunegaran mengadakan tradisi kirab pusaka mengelilingi benteng.

Pantauan merdeka.com, Rabu (14/11) malam, hujan yang mengguyur Kota Solo sejak Rabu siang, tak menyurutkan animo masyarakat untuk mengikuti kirab bersama keluarga Istana Mangkunegaran, abdi dalem serta wisatawan domestik maupun mancanegara.Sebelum dikirab terlebih dahulu dilakukan jamasan (pencucian) puluhan pusaka.

Usai jamasan, ribuan warga berebut air bekas jamasan pusaka milik Istana Mangkunegaran. Masyarakat masih percaya air yang telah digunakan untuk mencuci beberapa tombak pusaka itu bisa memberikan keberkahan. Sebagian warga ada yang sudah menyiapkan botol-botol air mineral. Sebagian cukup mengambil air itu lalu dicucikan pada pada mukanya.

"Ini untuk saya masukkan ke sumur di rumah, biar airnya berkah, segar dan menyehatkan" ujar Sartini, warga Nguter Sukoharjo, yang ikut berebut air.

Hal sama juga dikemukakan Kartijah, warga Salatiga, yang menyempatkan diri ke Solo. "Saya selalu ke Mangkunegaran setiap 1 suro. Saya ambil air jamasan satu botol. Nanti sesampai rumah saya tebarkan ke sawah dan kebun, biar subur dan panennya banyak. Ini juga bisa buat obat kalau sakit mas" katanya.

Kirab pusaka di Istana Mangkunegaran, dimulai pukul 19.50 WIB. Ribuan warga abdi dalem dan wisatawan juga ikut berpartisipasi dalam acara tersebut. Kirab mengelilingi Istana Mangkunegaran tersebut dilepas oleh Adipati Mangkunagara ke X, Raja Sri Paduka Mangkunegara IX dari pendapa istana.

Selain istana Mangkunegaran, Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat juga menggelar acara yang sama. Di keraton peninggalan dinasti Mataram tersebut akan menggelar kirab 10 pusaka dan 9 kebo bule atau Kebo Kyai Slamet, pada Kamis dinihari.
Sumber: Merdeka.com
Share:

Thursday, 8 November 2012

Rudolf Diesel [Mesin Diesel]



Spoiler untuk Rudolf Diesel:
Rudolf Christian Karl Diesel adalah sarjana mesin dari Jerman dan merupakan penemu dari Mesin Diesel.
Diesel lahir di Paris, Perancis pada tahun 1858 dari orangtua yang berkebangsaan Jerman dan berimigrasi ke Perancis. Sebagian masa kecil Diesel dihabiskan di Perancis sampai meletusnya perang Franco-Prussian di tahun 1870. Keluarganya terpaksa mengungsi pindah ke London, Inggris. Dan menjelang perang berakhir, ibunya mengirim Rudolf Diesel yang masih berusia 12 tahun untuk tinggal di Augsburg bersama paman dan bibinya agar dapat berbicara dalam bahasa Jerman dan bersekolah di Royal County Trade School, dimana pamannya menjadi mengajarkan matematika disana.

Pada usia 14 tahun, Rudolf Diesel mengirimkan surat kepada orangtuanya yang berisikan cita-citanya untuk menjadi seorang insinyur, dan setelah menyelesaikan pendidikan dasar dan menjadi murid terbaik di kelasnya pada tahun 1873, dia melanjutkan sekolahnya di School of Augsburg. Selanjutnya pada tahun 1875, dia menerima beasiswa dari Royal Bavarian Polytechnic di Munich, dimana saat itu Rudolf Diesel terpaksa menentang keinginan orangtuanya yang kesulitan keuangan dan mengharapkan agar Rudolf mulai bekerja untuk mencari penghasilan.

Sambil kuliah, Rudolf Diesel bekerja di sebuah pabrik dan mendapatkan banyak pengalaman dari tempatnya bekerja. Pada tahun 1880, Diesel lulus dari universitasnya dan mendapatkan kehormatan sebagai murid dengan nilai akademik terbaik.

Rudolf Diesel mengadakan penelitian, bagaimana agar penggunaan bahan bakar pada suatu mesin menjadi lebih efisien. Dia tahu bahwa mesin-mesin uap yang ada pada jamannya, hanya memiliki tingkat efisiensi sebesar 10-15%. Dia kemudian merancang sebuah mesin dengan bahan bakar yang disemprotkan kedalam ruang kompresi dimana bahan bakar tersebut akan terbakar akibat panas yang timbul akibat kompresi. Mesin inilah yang kita kenal sekarang dengan Mesin Diesel. Impian Diesel untuk menciptakan mesin dengan efisiensi tinggi menjadi tercapai, karena sumber bahan bakar untuk mesin diesel yang dipakai sekarang dan kita kenal dengan nama 'diesel' adalah minyak sisa dari hasil penyaringan bensin.

Setelah kematian Rudolf Diesel, mesin diesel menjadi pengganti mesin uap. Mesin Diesel adalah mesin yang berat dan memiliki bentuk yang lebih kaku dan kokoh dari mesin bensin sehingga mesin diesel tidak digunakan untuk mesin pesawat terbang, tetapi mesin diesel berkembang luas sehingga banyak dipakai oleh pabrik, kapal laut, kapal selam, lokomotif dan mobil modern. Mesin diesel mempunyai keuntungan karena lebih irit bahan bakar daripada mesin dengan bahan bakar bensin. Rudolf Diesel khususnya tertarik untuk menggunakan abu batu bara ataupun minyak sayur sebagai bahan bakar, dan kenyataannya, mesin yang dirancangnya memang dapat berjalan dengan menggunakan minyak sayur.

Share:

Pahlawan: Para Pembawa Terang

Rabu sore dua pekan lalu, Bandung dirundung mendung. Awan menggelayut kelam di atas langit Kota Kembang, menghadirkan secuil kekhawatiran bahwa hujan sebentar lagi datang.

Di sebuah ruangan di Panti Sosial Bina Netra (PSBN) Wyata Guna — panti tunanetra yang didirikan tokoh Belanda, DR. Ch. A. Westhoff pada 6 Agustus 1901 — Rudini, seorang penyandang tunanetra penghuni panti, berdiri. Sesekali ia menggaruk kepalanya tanda tak sabar seperti menunggu sesuatu.

Tak lama berselang, datang seseorang. Sesosok perempuan kurus berjilbab berjalan mendekat. Sebentar disapa, Rudini pun tersenyum, hatinya senang bukan kepalang, seseorang yang ditunggunya sudah datang.

“Apa kabar? Jadi kita membaca puisi?” kata Rudini sambil cengengesan. Perempuan itu lantas menjawab, “Ya, buku puisi?”

Sejurus percakapan itu, keduanya lalu duduk bersila di atas lantai. Dari dalam tas, sang perempuan kemudian merogoh sebuah buku. Ya, buku yang dijanjikan, kumpulan puisi Sony Farid Maulana bertajuk, “Menjemput Hujan”.

“Mulai kita? Sudah siap?” kata si perempuan. Rudini kemudian mengangguk semangat, ia lantas pasang kuping kuat-kuat. Pada sore hari yang mendung itu, sang perempuan membacakan tuntas buku puisi itu. Dan Rudini pun larut dalam lembaran bait puisi.

Siapa sebenarnya perempuan yang baik hati itu, yang mau merelakan sorenya disita Rudini? Ia adalah Eka Nurhamidah, seorang perempuan berusia 37 tahun yang sehari-hari bekerja sebagai tenaga administrasi di SD Muhamadiyah III Bandung. Kedatangannya meluangkan waktu ke Wyata Guna adalah untuk memuaskan hati para penghuni panti, membacakan semua teks bacaan yang tidak dicetak dalam huruf Braille.

Eka adalah seorang “reader”, yang membantu para tunanetra tanpa imbalan.

“Keinginan belajar mereka [para penyandang cacat tunanetra] itu tinggi, namun masih banyak buku yang belum dicetak dalam huruf Braille, jadi kami di sini hanya membantu berbagi pengetahuan dengan mereka,” kata Eka dengan nada yang sangat rendah hati. Padahal berkat orang-orang semacam dia, banyak para penyandang tunanetra mampu mencerna dan memahami buku, berita teranyar, ujian sekolah atau surat-surat dari orang tua penghuni panti.

“Buku itu jendela ilmu. Jadi banyak hal yang ingin mereka ketahui. Siapa lagi kalau bukan kita, yang bisa membantu mereka mewujudkan semua impian itu,” ungkap Eka yang sudah aktif di Wyata Guna sejak 1994.

Lamat-lamat dari ruangan lain terdengar suara perempuan yang juga sedang membaca dengan vokal sedikit lantang. Namun kali ini bukan soal puisi. Saat dilongok benar saja, Suci Apriyani (20), mahasiswi Semester III Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Bandung, membacakan buku pelajaran milik Dede Hendra (17) murid kelas 3 SMP SLB bagian A, yang duduk di sebelahnya. Mereka kemudian mesra belajar bersama.

Eka dan Suci hanya dua dari banyak sukarelawan yang mau meluangkan waktu membantu para tunanetra. Walau tidak ada catatan resmi, kegiatan reader sudah ada sejak Wyata Guna berdiri. Bagi para tunanetra, reader memang bukan matahari, mereka hanya lilin kecil. Namun lilin yang menuntun ke arah yang terang, yakni pengetahuan.

Budiman, mantan penghuni panti yang mengalami cacat netra kategori penglihatan rendah (low vision), mengakui peran dan bantuan para reader. Mereka, katanya, membantu dirinya hingga bisa menyelesaikan studi di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, dengan jurusan Pendidikan Luar Biasa. Bagi, Budiman, para reader adalah mata yang membukakan jendela kegelapan pengetahuan. Para reader adalah pahlawan pembawa terang.

sumber : http://id.berita.yahoo.com/blogs/newsroom-blog/pahlawan-para-pembawa-terang.html
Share: