Friday, 17 May 2013

Kisah Sahabat Nabi: Salim maula Abu Hudzaifah, Pemikul Alquran Terbaik

Pada suatu hari Rasulullah SAW berpesan kepada para sahabatnya, “Ambillah olehmu (riwayat dan bacaan) Alquran itu dari empat orang, yaitu Abdullah bin Mas’ud, Salim maula Abu Hudzaifah, Ubai bin Ka’ab dan Mu’adz bin Jabal!”

Ia adalah Salim RA, hamba sahaya Abu Hudzaifah RA. Awalnya ia hanyalah seorang budak belian. Kemudian Islam memperbaiki kedudukannya, hingga diambil sebagai anak angkat oleh salah seorang pemimpin Islam terkemuka.
Tatkala Islam menghapus adat kebiasaan memungut anak angkat, Salim RA pun menjadi saudara, teman sejawat serta maula (hamba sahaya yang telah dimerdekakan) bagi orang yang memungutnya sebagai anak tadi, yaitu sahabat yang mulia bernama Abu Hudzaifah bin Utbah RA.

Itulah berkah karunia dan nikmat dari Allah SWT. Salim RA mencapai kedudukan tinggi dan terhormat di kalangan Muslimin, berkah keutamaan jiwanya, serta perangai dan ketakwaannya. Hal itu juga dikarenakan ia tergolong Muslim generasi pertama.
Sedangkan Hudzaifah bin Utbah RA adalah salah seorang yang juga lebih awal dan bersegera masuk Islam. Hudzaifah adalah seorang yang terpandang di kalangan kaumnya, karena bapaknya telah mengkader dia untuk menjadi pemimpin Quraisy masa depan.
Bapak dari Hudzaifah RA inilah yang setelah terang-terangan masuk Islam mengambil Salim RA sebagai anak angkat selepas Salim merdeka. Mulai saat itu, ia dipanggil Salim bin Abi Hudzaifah. Kedua orang itu pun beribadah kepada Allah dengan hati yang tunduk dan khusyuk, serta menahan penganiayaan Quraisy dan tipu muslihat mereka dengan hati yang sabar tiada terkira.
Pada suatu hari, turunlah ayat yang membatalkan kebiasaan mengambil anak angkat. Maka setiap anak angkat kembali menyandang nama bapak aslinya. Misalkan Zaid bin Haritsah RA yang diangkat anak oleh Nabi SAW hingga dikenal oleh kaum Muslimin sebagai Zaid bin Muhammad SAW.
Ia kembali menyandang nama bapaknya Haritsah, namanya berubah menjadi Zaid bin Haritsah. Tetapi Salim RA tidak dikenal siapa bapaknya, maka ia menghubungkan diri kepada orang yang telah membebaskannya. Oleh karena itu, ia dipanggil Salim maula Abu Hudzaifah RA. Sampai akhir hayat mereka, keduanya melebihi saudara kandung. Ketika ajal tiba, mereka meninggal bersama-sama, nyawa melayang bersama nyawa, dan tubuh yang satu terbaring di samping tubuh yang lain.
Itulah keistimewaan luar biasa dari Islam, bahkan itulah salah satu kebesaran dan keutamaannya. Salim RA telah beriman sebenar-benar iman, dan menempuh jalan menuju Ilahi bersama-sama orang-orang yang takwa dan budiman.
Pada diri Salim RA terhimpun keutamaan-keutamaan yang terdapat dalam agama Islam. Semuanya itu berkumpul pada dirinya dengan dihiasi keimanannya yang mendalam sehingga menjadi suatu susunan yang amat indah.
Kelebihannya yang paling menonjol ialah mengemukakan apa yang dianggapnya benar secara terus terang. Ia tidak menutup mulut terhadap suatu kalimat yang seharusnya diucapkannya, dan ia tak hendak mengkhianati hidupnya dengan berdiam diri terhadap kesalahan yang menekan jiwanya.
Setelah Kota Makkah dibebaskan oleh kaum Muslimin, Rasulullah SAW mengirimkan beberapa rombongan ke perkampungan suku-suku Arab sekeliling Makkah. Misi mereka adalah untuk berdakwah bukan berperang.
Salah seorang pemimpin dari salah satu pasukan ialah Khalid bin Walid RA. Ketika Khalid RA sampai di tempat yang dituju, terjadilah suatu peristiwa yang menyebabkannya terpaksa mengunakan senjata dan menumpahkan darah.
Sewaktu peristiwa ini sampai kepada Nabi SAW, beliau memohon ampun kepada Allah seraya berkata, “Ya Allah, aku berlepas diri kepada-Mu dari apa yang dilakukan Khalid.”
Dalam ekspedisi yang dipimpin Khalid ini, ikut bersamanya Salim maula Abu Hudzaifah RA serta sahabat-sahabat lainnya. Melihat perbuatan Khalid tadi, Salim menegurnya dengan sengit dan menjelaskan kesalahan-kesalahan yang telah dilakukannya.
Salim tetap berpegang pada pendiriannya dan mengemukakannya tanpa takut atau bermanis mulut. Ketika itu, ia memandang Khalid bukan sebagai salah seorang bangsawan Makkah, dan ia pun tidak merendah diri karena dahulu ia seorang budak.
Ia menentang dan menyalahkan Khalid bukanlah karena ambisi atau kepentingan pribadi tertentu, ia hanya melaksanakan nasihat yang diakui sebagai haknya dalam Islam, dan yang telah lama didengarnya dari Nabi SAW, bahwa nasihat itu merupakan teras dan tiang agama. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Agama itu ialah nasihat.”
Ketika Rasulullah mendengar perbuatan Khalid bin Walid, beliau bertanya,“Adakah yang menyanggahnya?” Alangkah agungnya pertanyaan itu, dan alangkah mengharukan. Ketika para sahabat mengatakan pada beliau, “Ada. Salim menegur dan menyanggahnya!”
Selama hayatnya, Salim RA hidup mendampingi Rasulullah dan orang-orang beriman. Tidak pernah ketinggalan dalam suatu peperangan mempertahankan agama, dan tak kehilangan gairah dalam suatu ibadah. Sementara persaudaraannya dengan Abu Hudzaifah, makin hari makin bertambah erat dan kukuh jua. Saat terjadi pertempuran Yamamah, suatu peperangan sengit yang merupakan ujian terberat bagi Islam, kaum Muslimin berangkat untuk berjuang. Tidak ketinggalan Salim bersama Abu Hudzaifah RA, saudaranya seagama.
Share:

0 komentar:

Post a Comment